Ini Penjelasan Pakar Filologi soal Nasab Habib di Indonesia

by -963 views

Jakarta – Pakar Filologi, Prof. Menachem Ali turut berkomentar terkait polemik nasab Ba’alawi atau garis keturunan habib di Indonesia yang disebut mustahil terhubung ke Nabi Muhammad SAW oleh Pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Nahdlatul Ulum Banten, KH Imaduddin Utsman.

Sebelumnya, Imaduddin menyatakan bahwa ia telah meneliti nasab Nabi Muhammad SAW dan keturunanya mulai dari Fatimah, Husein, Ali Zainal Abidin hingga ke Ahmad bin Isa. Namun dia mengaku menemui kejanggalan saat sampai di baris Ahmad bin Isa yang hidup pada abad keempat Hijriah.

Setelah ia telusuri sejumlah dokumen atau manuskrip dari abad keempat hingga kedelapan Hijriah, Imaduddin menemukan fakta bahwa Ahmad bin Isa hanya memiliki tiga orang anak, yakni bernama Muhammad, Ali dan Husein.

Imaduddin mengaku tidak menemukan tokoh bernama Ubaydillah yang disebut oleh kelompok Ba’alawi sebagai anak dari Ahmad bin Isa sekaligus tokoh yang mereka klaim sebagai leluhur para habib di Indonesia.

Sebagai informasi Ubaydillah sendiri merupakan tokoh yang diklaim kelompok Baalawi sebagai datuk atau leluhur para habib di Indonesia. Hingga kini garis keturunannya masih terus digunakan. Adapun, nama Ba’alawi diambil dari nama anak Ubaydillah yakni, Alawi.

Lebih lanjut, Imaduddin baru menemukan nama Ubaydillah pada manuskrip yang ditulis pada abad kesembilan. Manuskrip tersebut pun ditulis oleh tokoh Ba’alawi bernama Ali Bin Abu Bakar As-Sakran.

Terkait hal tersebut, pakar filologi, Prof. Menachem Ali mengatakan bahwa pernyataan Imaduddin tidak sepenuhnya keliru. Menurutnya, memang tak pernah ditemukan manuskrip eksternal (selain yang dimiliki kelompok Ba’alawi) yang mengisahkan tokoh bernama Ubaydillah anak Ahmad bin Isa.

“Jika saya ditanya apakah dokumen mengenai tokoh yang bernama Ubaydillah itu eksis pada zaman (Ahmad bin Isa), maka saya bilang tidak ada,” ujar Menachem Ali, di YouTube Rhoma Irama Official, dilihat Sabtu 29 Juni 2024 malam.

“Berdasarkan manuskrip, tidak ditemukan baik itu pada abad keempat, kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan, itu tidak ada. Tokoh Ubaydillah baru eksis pada manuskrip di abad kesembilan Hijriah. Jadi selama lebih dari 500 tahun dokumen (manuskrip yang menceritakan tokoh bernama Ubaydillah) itu tidak ada,” paparnya.

Menachem Ali melanjutkan, manuskrip yang ditemukan pada abad kesembilan Hijriah tidak dapat diakui, lantaran ditulis oleh tokoh internal kelompok Ba’alawi.

“Masalahnya ada tidak dokumen eksternal (di luar milik Ba’alawi) yang mengisahkan tokoh bernama Ubaydillah. Tidak ada, adanya hanya di kelompok Ba’alawi saja, itulah masalahnya,” imbuhnya.

“Kalau Nabi Muhammad SAW saja yang hidup ribuan tahun lalu, ada manuskrip eksternalnya, apa mungkin Ubaydillah yang diklaim sebagai tokoh Ba’alawi, yang hidup dekat dengan zaman kita tidak ada manuskripnya. Kalau tidak ada berarti memang (tokohnya) tidak ada, jangan diada-adakan,” sambungnya.

Jadi, lanjut dia, apabila Ubaydillah ini merupakan tokoh historis maka, seharusnya semasa hidupnya antara abad kelima atau keenam terdapat manuskrip yang mengisahkan tentang sosoknya.

“Kalau memang tidak disebut di manuskrip. Memang tokoh ini, maaf harus saya katakan, tokoh ini dipersoalkan,” tegasnya.

“Jadi dapat disimpulkan tokoh ini ditulis dalam rangka glorifikasi, sebagai orang yang memiliki kaitan dengan tokoh tersebut,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.